The Interview: When Karma Hits Me

18 Mar

Saat semua pertanyaan yang sering saya ajukan di sidang skripsi mahasiswa akhirnya ditanyakan ke saya.

Ini cerita tentang pengalaman saya wawancara beasiswa. Setelah beberapa kali melamar beasiswa, akhirnya ada juga yang nyantol sampai tahap wawancara. Begitu senangnya saya mendapatkan kesempatan ini sampai-sampai semua informasi saya kumpulkan, susun kemungkinan pertanyaan dan jawaban, serta latihan. Indeed, practice makes perfect. Ini kesempatan besar dan saya tidak boleh gagal hanya karena kurang persiapan, begitu pikir saya waktu itu.

Sebagai dosen Universitas Paramadina (boleh dong bangga ama institusi sendiri), saya cukup diuntungkan karena kolega saya adalah alumni Amerika dengan beasiswa Fulbright. Kolega saya ini juga pada baik hati semua, mulai dari mengoreksi proposal, koreksi study objective dan personal statement, koreksi bahasa Inggris dan simulasi wawancara semuanya pada bantuin saya. Rektor saya yang ganteng juga nggak ketinggalan mendukung dengan menuliskan reference letter. Alhamdulillah, Allah membantu melalui tangan kolega-kolega saya yang baik hati (dan tidak sombong).

Setelah konsul ke sana ke mari dan membaca semua blog tentang wawancara beasiswa fulbright, saya simpulkan bahwa sebenarnya dalam interview paling penting menunjukkan positioning dan visi kita. Kalau saya adalah dosen di Ilmu Komunikasi, maka pembeda saya dengan yang lain apa, apa tujuan saya, dan bagaimana study PhD ini akan berperan dalam mencapai tujuan saya. Intinya sih itu kayaknya. Dan sebagian besar blogger itu nulis kalau nggak usah khawatir sama wawancara karena biasanya hanya ngobrol-ngorbol aja.

Oh iya, Sama satu lagi waktu saya diskusi dengan teman saya yang juga menjadi interviewer beasiswa ini, dia bilang saya harus bisa mempertahankan bahwa penelitian ini penting dilakukan. Dan hanya saya yang bisa melakukannya. Tsaaahhhhh.. lebay abis sih, tapi bener juga sih.. Lah kalau ada dua orang dengan topik yang mirip tapi jagoan dia, trus kenapa harus saya gitu yang dipilih.

Akhirnya, hari interview pun datang. Saya lupa tepatnya kapan, tapi yang jelas itu bulan Juli. Saya diantar Nala ke sebuah hotel di daerah Kuningan. Di sana sudah ada beberapa orang yang mau interview. Seperti nasehat temen saya, pas di tempat wawancara upayakan mingle dengan peserta lain untuk menunjukkan bahwa Anda adalah pribadi yang easy going. Well, sebenernya sih ngobrol dengan peserta lain juga membantu menghilangkan perasaan deg-deg-an dan nervous. Pas pintu ruang wawancara kebuka sempet ngelihat di dalam ada dua panel, dimana salah satu panelnya ada temen saya yang artinya juga nggak mungkin saya diwwcr sama dia. Di panel yang lain saya lihat ada satu orang bule dan dua orang Indonesia (dua-duanya keturunan Chinese). Salah satunya sempat keluar ke kamar kecil. Kamu tahu Yohannes Surya? Nah! Perawakannya sama kayak Yohanes Surya (agak cupu juga kayak prof Surya), tapi si bapak ini lebih pendek dikit dan pas keluar menebar senyum. Alhamdulillah pikir saya interviernya ramah.

Dan.. akhirnya dipanggillah saya ke dalam ruangan wawancara. Ada empat orang panelnya, tiga orang yang tadi dan satu orang lagi dari Aminef Indonesia. Jadi, posisi duduknya kayak gini: professor Chinese (prof 1), Bule Amrik (Bule), Professor Chinese (The smiling Prof) yang keluar tadi, dan satu lagi sy kurang tau siapa (kayaknya org aminef deh). Bapak yang orang Aminef meminta saya memperkenalkan diri.

Bapak Aminef: We don’t have much time. You only have five minutes.

Me: (Whatttttt???!!!) Okay. My name is Ika, I’m a lecturer at Paramadina University…
The smiling prof: (masih dengan senyumnya) We knew that. Why don’t you just tell us about your research. Continue reading

Ikhlas

21 Jan

I know.. I know.. Pasti judul tulisan ini aja membuat para pembaca rolling eyes. Haha.. Saya juga awalnya mau pakai judul lain, tapi pas saya pikir-pikir lagi, Ikhlas is the best word to describe my thoughts.

Kata ikhlas paling mudah diucapkan tapi susah sekali dijalani ya.. (there! I see you! another rolling-eyes)

Well, entah saya yang lebay atau gimana ya.. Tapi akhir tahun ini saya baru saja mendapatkan pengalaman yang sangat berharga tentang keikhlasan. Tepatnya setelah masa nifas saya selesai (40 hari pasca keguguran yang kedua), saat saya mulai sholat lagi. Hmm.. mungkin karena kelamaan alpa sholat, pas sholat lagi rasanya tingkat keimanan saya nggak setinggi kemarin pas sebelum keguguran ya.. Tsaelah.. Yang jelas sih pas sholat ya saya hanya “sholat” aja, tapi nggak berasa ada kedekatan dengan Tuhan.

Kira-kira beberapa hari seperti itu sampai akhirnya suatu hari ada perasaan yang sangat kuat bahwa saya sebentar lagi akan mati. Yeah.. I know.. Mungkin hanya lebay.. tapi perasaan itu emang kuat banget sampai-sampai saya nggak bisa tidur malam itu. Sebagai manusia tentu saja saya merasa takut kalau maut menjemput. Segala hal yang buruk saya pikirkan, utamanya ke mana saya akan ditempatkan. Neraka dan segala isinya (versi buku jadul yang ada gunting lidah, setrika punggung, dan minum nanah) pun terbayang. Rasanya itu nggak enak bangetttt. Takut, gelisah, cemas, ah.. semuanya campur aduk.

Dan lebih buruk lagi, perasaan itu kuat banget dan menghampiri saya sampai sekitar dua minggu. Dan selama dua minggu itu pula saya selalu insomnia. Hanya bisa tidur lelap setelah shubuh. Malam-malam, kala pikiran dan perasaan itu datang, saya selalu menangis diam-diam. Membayangkan azab dan membanyangkan Mikail tumbuh tanpa saya. Sungguh saya berharap tidak akan ada di antara pembaca yang budiman yang mengalami hal ini.

Pada suatu hari, selepas saya sholat, saya pun berzikir dan berdoa. Entah dari mana pula datangnya, saya punya keberanian untuk berkata kepada Tuhan bahwa saya sudah ikhlas jika memang saya harus mati. Kematian, saat itu, saya yakin akan datang kepada setiap orang dan tak terhidar. Waktu dan prosesnya adalah rahasia Sang Pencipta.

Sejak itu pula doa saya berubah.

Sebelumnya, doa saya penuh dengan keinginan duniawi. Ingin punya anak, ingin sekolah, ingin ini, ingin itu. Duniawi semata. Namun setelah saya ikhlas bahwa saya akan mati dan bisa saja menghadap-Nya setiap saat, tujuan doa saya pun lebih berorientasi ke akhirat. Saya berdoa untuk ampunan Tuhan, berdoa untuk kebahagiaan dan ampunan untuk orangtua saya, dan berdoa untuk Mika. Saya berdoa kalaupun umur ini tak sampai hingga melihat Mika menjadi dewasa, saya berdoa Allah selalu melindungi dia, menjaganya dari maksiat dan kekejaman dunia, berdoa dia jadi anak yang berani dan selalu tahu bahwa Ibunya sayang padanya. Saya berdoa agar Nala bahagia dan bisa bertemu dengannya di alam peng-hisab-an.

Sejak itulah saya merasakan makna kata ikhlas. Continue reading

Susahnya Jadi Anak Baik

20 Dec

Menjadi anak yang baik sama susahnya dengan menjadi orangtua yang baik. Itulah mungkin kadang-kadang kita memberikan pembenaran kepada diri kita saat kita tidak baik, kita akan bilang: Saya sedang belajar dan berusaha menjadi seseorang yang baik. Namanya juga belajar..

Jadi ceritanya begini: Sedari dia masih kecil, saya sudah berupaya menanamkan konsep diri ke anak saya yang berumur 4,5 tahun itu. Kata-kata yang selalu saya gunakan adalah anak yang sholeh, anak yang baik, dan anak yang selalu berkata jujur.

Berhubung menurut tulisan-tulisan yang saya baca kita harus menggunakan kata-kata yang positif, makanya kata-kata positiflah yang saya pilih. Misalnya aja si Mika lagi berbohong, maka biasanya saya bilang kalau dia tidak berkata jujur. Atau misalnya dia ngisengin orang, saya akan bilang dia bukan anak baik. Pokoknya gunakan kata positif (katanya sih gitu).

Konsep diri ini juga saya tekankan kalau saya berdoa bersama dia sehabis sholat Magrib atau Isya (maklum ya.. Mama kan ngantor jadi bisanya cuma magrib atau isya aja). Saya biasanya berdoa dengan suara keras, “Ya allah, jadikanlah Mika anak yang baik, anak yang sholeh dan anak yang jujur”

Sehabis itu, biasanya diikuti si Mika dengan berdoa yang sama: Ya Allah, jadikanlah mama mama yang baik, sholeh dan berkata jujur.

Awal-awal sih ngakak juga denger kayak gitu, tapi demi menjadi contoh yang baik, saya coba untuk tahan ketawa ya.. Sambil pelan-pelan ngajarin dia berdoa kesehatan atau keselamatan untuk saya dan papanya.

Pada suatu malam, sebelum tidur, kira-kira seminggu lalu, si Mika bertanya ke saya:

“Mama, gimana sih caranya jadi anak yang baik?”

Hah???? Waduhhhh.. Pusing juga ya.. Masa iya saya jawab: anak baik itu menuruti norma masyarakat, blablabla. Hahahaha.. Bisa pusing si Mika.

Akhirnya saya tanya balik (jurus dosen kalo ditanya mahasiswa tapi bingung mau jawab apa), kenapa Mika nanya kayak gitu?

“Gini ma. Aku tau caranya jadi anak sholeh itu kalau aku rajin sholat sama ngaji. Kalau aku bilang mbak Leha tadi nggak mau mandi tapi aku yang nggak mau kan artinya aku nggak berkata jujur. Tapi kalau jadi anak baik gimana sih ma?”

What??????? Pertanyaan tadi resmi menjadi pertanyaan ter-filosofis dari si Mika.

Sambil masih pusing mau jawab apa, saya pun coba menjawab: “Anak baik itu kalau dengerin apa kata mama.”

Dijawab lagi dong ama dia. “Ma, kan mama bilang anak baik itu anak yang rajin ke sekolah. Aku udah rajin sekolah. Berarti aku anak baik kan?”

“Iya, itu artinya kamu anak baik.”

“Kalau aku habisin makan, aku anak baik?”

“Iya.”

“Kalau aku nggak main air, itu juga aku anak baik?’

“Iya”

Mika pun mengisap jempol sambil terdiam. Saya peluk dan saya cium kepalanya. Si Mika lalu bilang, “Jadi anak baik susah ya ma?”

Huhahahahahahahahahahah.. Tawa saya pun meledak. Giling…. Nih bocah baru empat setengah tahun tapi sudah menyadari kalau jadi anak baik susah. Hahahaha.. Continue reading

Bagaimana Mem-branding Diri Anda

11 Dec

Sebelum masuk ke tulisan, saya akan berikan sebuah kejadian yang menimpa salah seorang mahasiswi saya yang cantik rupawan plus gaul dan seksi, sebut saja Mawar. Karena karakteristik yang saya sebutkan tadi, si Mawar ini jadi “incaran” senior di kampus, baik yang iri ataupun yang kagum sama dia. Si Mawar pun mencari aman dengan jalan memacari salah seorang senior, sebut saja Budi, yang jaringan pertemanannya luas namun suka sok keren. Intinya, hubungan mereka menjadi bahan pergunjingan, ledekan, dan gosipan. Trending topic pokokna mah. Singkat kata, begitu si Budi lulus kuliah, maka berakhir pula hubungan mereka.

Dan.. Meski Budi sudah lulus dan Mawar sudah beberapa kali berganti pacar, namun si Mawar ini masih terkenal dengan cap “Mantannya si Budi”.
Suatu hari, si Mawar bertanya ke saya, “Mbak, kenapa sih orang taunya mantan gue si Budi aja? Padahal kan mantan gue banyak.”

Moral of the story adalah:
1. Pikir-pikir sebelum memacari seseorang.

2. Berhubung Anda adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan orang lain, maka setiap hal yang Anda lakukan akan dimaknai oleh orang lain. Dan pemaknaan itu menentukan citra Anda di mata orang lain. Pemaknaan yang terakumulasi menjadi reputasi Anda.

3. Cap yang diberikan orang lain kepada Anda itu namanya “personal branding” anda. Cap ini bisa aja mantannya si A, anak yang aneh, anak yang cupu, dosen yang galak, dosen yang jadul, atau bisa juga dosen yang keren.

Masuk ke cerita kedua:
Continue reading

Nine things you shouldn’t do when you’re writing your thesis

8 Nov

Mahasiswa yang lagi pada nulis skripsi pasti pernah (sering atau bahkan selalu?) bete ama dosen pembimbingnya. Jangan khawatir, perasaan itu biasanya berbalas, heheheh..

Berikut beberapa saran saya jika kamu mau dosen pembimbing nggak bete ama kamu. Dari pengalaman saya membimbing skripsi sejak tahun 2009, berikut beberapa hal yang menurut saya JANGAN dilakukan. I repeat: JANGAN dilakukan, kecuali kamu mau dosenmu bete juga ama kamu:

1. Jangan datang dengan kertas kosong, tangan kosong, apalagi otak kosong.

Do your homework guys. Datang ke perpus, baca-baca judul skripsi orang, lihat metode mereka, lihat buku-buku yang mereka pakai. Lebih baik anda datang membawa dua atau tiga topik dan kebingungan menentukan yang mana dari pada:

“Mbak, saya mau bikin skripsi tentang Twitter, tapi apa ya mbak?”

“Twitter? Tepatnya apa ya topiknya?”

“Nah, itu dia mbak, apa ya yang bagus?”

Yailah cyin… Yang kayak gini mah udah lewat di mata kuliah metodologi, ngapain lagi masih ditanyain pas nulis skripsi.

2. “Saya nggak ketemu bukunya.”

Kalau kamu berkata ke dosen kalimat ini, please… PLEASE pastikan kamu sudah mencarinya di semua tempat yang kamu bisa dan tidak ketemu. Oh iya, semua tempat itu bukan hanya perpustakaan kampus lho ya.. Pernyataan ini se-level ama pernyataan: “Saya nggak ketemu teorinya.” Ingat ya: Kamu menulis skripsi, bukan disertasi, jadi judul/topik yang sudah di-approve sama dosen itu biasanya juga sudah diukur sama dosen apakah sudah sesuai dengan kapasitas kamu sebagai mahasiswa S1.

 

3. Jangan pernah bimbingan jika anda belum selesai merevisi sesuai yang diminta dosen.

Jika kamu minta janjian, itu artinya dosen sudah menyediakan slot waktu untukmu. Artinya, ada hal-hal yang lebih penting yang ditunda hanya untuk membimbing kamu. Dan… ketika kamu muncul..

“Mbak saya mau bimbingan.”

“Okey, apa yang masih bingung?”

“Saya bingung mau nambahin apa mbak.”

“Okay, yang minggu kemarin saya minta sudah sampai mana?”

“Nah, itu dia mbak, saya bingung mau nambahin apa. Saya masih nggak ngerti.”

OMG!! Ini kisah nyata dan saya bener-bener bete. Kalau emang nggak jelas, kenapa nggak nanya dari minggu lalu cobaaaaaa…

Kasus yang lain adalah, meminta masukan dari dosen atas revisi kamu. Lalu, saat janjian bimbingan tiba, dosen sudah menyerahkan draft kamu yang dicoret-coret, lalu kamu bilang: Eh udah dibaca ya mbak? Sebenernya yang itu belum selesai sih mbak, ini yang udah saya tambahin lagi

Hiiiiiiiiiiiiiii… Bawaannya pengen jitak. Trus gue harus baca lagi gitu gara-gara lo ngumpulin yang belum selesai? Gengges.

 

4. Jangan copy paste.

Ini sama aja bunuh diri. Ada bom waktu yang setiap saat bisa meledak jika satu orang saja dari penguji mendapati bahwa ada plagiarism dalam penelitian kamu.

 

5. Jangan nanya basic question.

Basic question ini misalnya kalau anak komunikasi nanya: mbak saya judul tentag wasweswos. Model komunikasi apa ya mbak yang cocok? Cyin…. Dibaca dong bukunya cyin…

Satu level yang lebih parah dari ini adalah bertanya basic question ke dosen lain yang bukan pembimbing anda.

Pada suatu siang di ruang prodi:

*Mahasiswa masuk clangakclinguk* (Kebetulan cubicle saya paling dekat dengan pintu)

“Mbak, ada bu Anu gak ya?”

“Nggak ada, lagi ngajar.”

“Oh gitu. Lagi sibuk nggak mbak?” (Alarm mulai menyala).

“Iya, lagi ngetik.”

“Mbak sebentar aja sih mbak aku mau nanya, kl judul skripsi aku wasweswos, kira-kira pake model komunikasi apa ya?” (Atau: “Pakai teori apa ya?”)

Zzzzzzzzzzzzz……

Bagi saya mahasiswa jenis ini hanya ada dua: Menggangu dan Menggangu banget. Kalau saya kenal dengan dia, biasanya saya akan menjawab singkat: Baca buku Mulyana (Yes! Prof Deddy the legend), banyak model komunikasi di sana. Kalau saya nggak kenal, saya hanya akan jawab: saya lagi ngetik, kamu baca buku aja. Hehehehe.

 
Continue reading

Perayaan Ulang Tahun

31 Oct

Today is Nala’s birthday.

For two days I’ve been thinking to write something on my blog, a thought about him and his birthday. I’m still thinking about it until last night, when I came home, as usual Mika has already slept, Mbak Turin showed us a gift that Mika has prepared for his father—a box, lunch box sized, wrapped with gift paper.

I told Nala not to open it until morning so that Mika can give it to him. Before going to bed, I and Nala watch DVD and in the middle of the movie, Mika awoke and told us to go to bed with him. It was already 11:50 pm and I told Nala to open the gift.

To appreciate him, Nala pretended to wondering what’s in the box.
“Hmm.. apa ya isinya…,” Nala said.
“Isinya Chiki,” Mika replied.
“Yah.. Mika kenapa kamu kasih tau papa isinya apa, kan nggak kejutan lagi,” I told him.
“Buka pa cepet, biat kita makan Chikinya,” Mika said with enthusiasm.

zzzzzzzz…… gimana sih mika -__-“ Continue reading

Kenapa Sih Aku Harus Sekolah?

29 Oct

mikabkt

I really need help in answering all my son’s questions. I believe some of young parents also need help like me.

To be honest, I and Nala, considering our jobs as a lecturer and a journalist, never thought that we will need help in answering Mika’s questions. I mean, look at us! I’m a lecturer in communication studies. I won’t be so bold, but yeah.. I’m mastering in formulating message, especially how to simplify a complicated one. Nala, in the other hand, is mastering in picking important information and writing it lucidly.

These days, in his age of fourth, Mika really makes us frustrating by asking questions. He’s a garrulous kid who has millions of question. The most difficult topic to answer is the reason why should he goes to school.

I always said that everyone should go to school so they can learn how to read, to write and to be independent. He countered my answer by saying that he can learn all of that at home.

“You can teach me. I already know some alphabets and numbers. I can count to ten, in Indonesia and English.”

“Yeah.. You still have to go to school to socialize and to learn how to be an independent person,” I said.

“But I already have lots of friends. I’m independent. I know how to wear my shoes, wear my clothes; I even can eat by myself.”

I really want to say that he should go to school to obtain a degree and then get a great job, but somehow I don’t want to standardize his life. I mean how IF.. How IF.. Mika has a great potential in painting or maybe singing or maybe creating stuff and he could be a greater person rather than just a high-paid-worker?

All my thoughts will only end up with a simple answer: You should go to school to learn.

“..But you can teach me.”

“You have to go to school Mika.”

“But why?”

There it is, the most difficult question to answer.
Continue reading